Kamis, 15 Januari 2015

Cura, Ti Amo

Care (English), Zorg (Dutch), Pflege (Deutch) itu semua mempunyai arti yang sama yaitu "PEDULI" (Bahasa). Apasih Peduli itu? Dalam bahasa inggris (n) the provision of what is necessary for the health, welfare, maintenance, and protection of someone or something, (v) feel concern or interest; attach importance to something, sedangkan dalam bahasa indonesia peduli itu adalah tindakan yang didasari pada keprihatinan terhadap masalah orang lain. (wikipedia)

Intinya peduli itu berhubungan dengan orang lain maupun lingkungan, dan menggunakan perasaan. Banyak cara untuk menunjukkan kepedulian seseorang terhadap seseorang ataupun sesuatu. Bisa dilihat dari gerak/i orang tersebut. Rasa peduli tumbuh di setiap individu dengan tingkatan berbeda dari satu objek ke objek lainnya. Mau berbagi sedikit tentang peduli terhadap sesama, disini juga terdapat berbagai tingkatan, ada yang tidak peduli, hanya peduli, cukup peduli, dan sangat peduli.

Tidak peduli yaa masa bodoh, apapun yag terjadi tidak memberikan dampak apapun pada diri seseorang, mengganggap biasa saja, seolah tak ada apapun yang terjadi. Orang seperti ini biasa disebut cuek. Tapi sedingin-dinginnya hati seseorang, selama ia masih waras (tidak gila, ataupun sakit kejiwaan lainnya) ia tetap memiliki kepedulian, hanya saja ia tidak tau atau belum mau menunjukkan kepeduliannya. Bentuk kepedulian yang paling sederhana itu senyum, itu salah satu cara untuk bersimpati. Ikut merasakan, memikirkan atau mengkhawatirkan apa yang telah dan akan terjadi, meskipun sedikit, pasti merasakannya.


Begitu pula dengan tingkatan lainnya, yang membedakan hanya cara mengapresiasikan kepedulian. Salah satu cara menunjukkan kepedulian adalah dengan MARAH. 

Orang bijak berkata, marah adalah tingkat kepedulian yang paling tinggi. Karena dengan marah, itu berarti ada sesuatu yang sudah keluar jalur, dan orang yang memarahi kita adalah orang yang mengkhawatirkan akan keadaan kita, dan ingin kita segera masuk kembali ke dalam jalur yang seharusnya. 

Sudah pasti, orang yang paling sering marah di kehidupan kita, atau saya secara pribadi adalah Orang Tua. Iya, Mama dan Bapak. Memang lebih sering mama yang memarahi saya jika saya melakukan sesuatu secara salah, dan tingkatan marahnya pun berbeda sesuai dengan tingkat kesalahan yang saya lakukan, sedangkan Bapak, beliau jarang-jarang memarahi saya, kecuali jika saya sudah sangat keterlaluan.  Selain orang tua, ada juga Guru/Dosen yang siap untuk memarahi muridnya yang salah, sampai-sampai rasanya seperti mau mati ditempat. Lebay


Yaa apapun yang merela lakukan meskipun dengan marah-marah, itu ditunjukkan untuk kebaikan kita di masa mendatang. Amiin. Namun memang terkadang kemarahan itu membuat kita tertohok pada intinya. Dan itu bisa menimbulkan rasa marah dan kecewa. Kalau kata Pak Dahlan Iskan, 'Rasa sakit hati itu penting, karena akan menjadi motivasi untuk lebih maju.' Begitu kata beliau, tapi memang terkadang, rasa terabaikan akan membuat orang memiliki kekuatan ekstra untuk maju. 


Yaa selain orang-orang itu, masih ada beberapa orang lagi yang memiliki intensitas marah yang lebih sering dibandingkan dengan yang lainnya. Itu karena mereka peduli. Jadi jangan lama-lama marahnya.

Salah satu penyebab marah, adalah KHAWATIR. Iya khawatir, yang belakang ini sedang saya rasakan. Saya khawatir karena saya membuatnya khawatir dengan tingkah dan laku saya. Owh, why always about you dear. Saya takut kalau kekhawatirannya akan memuncak dan meledak seperti bom. Bukan berarti saya hanya menunggu hal itu terjadi, saya juga melakukan hal-hal yang menurutku cukup untuk mengurangi kekhawatirannya, meskipun itu masih kurang baginya. Saya tidak menyalahkannya untuk apa yang terjadi saat ini, karena memang kalau mau dikupas satu persatu saya adalah penyebab dari kekhawatirannya itu. Karena dia peduli. Saya juga pernah berada di posisinya, namun rasa-rasanya apa yang saya tunjukan tidak semenakutkan ini. Mungkin karena sikap dan sifat kami yang berbeda, sehingga berbeda pula cara kami menunjukkannya. 


Dan dengan kekhawatirannya itu, terkadang ia marah. Dan itu adalah situasi yang sangat saya tidak suka. Karena segala sesuatu yang pakai hati, tidak akan semudah itu untuk hilang tanpa bekas, dan tidak semudah itu pula untuk bisa diabaikan. Jadi, kalau kata anak gaul mah itu galau. Iya kalau dia marah itu bikin galau. Tidak menyenangkan ataupun mengasyikkan, rasanya ingin cepat selesai, atau ga marahan aja kalo bisa. Iya ga? 

Tapi aku selalu bersyukur karena ia masih marah, karena mengkhawatirkanku, itu adalah bentuk kepeduliannya terhadapku. Dan aku masih menjadi alasannya untuk itu. Justru kalau sikapnya berubah menjadi dingin, itu akan lebih sangat menakutkan. Hii sereem. Ti Amo :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar