Minggu, 19 Januari 2014

siklus

dinding ini ku tata rapi agar hanya tersisa satu pintu untuk kau masuki
namun saat melihatnya, semua hancur dan ia bisa masuk lewat mana pun

perlahan tapi pasti dinding itu ku tata lagi, dan kini pintu itu benar benar sudah ada yang memiliki

pondasi kepercayaan dan dinding kesetiaan yang telah semakin kokoh, hancur dengan hanya sekali tiupan topan yang begitu dahsyat yang menghancurkan kepercayaanku

ku gali gali lagi sisa sisa kepedulian yang kumiliki
ku bangun lagi dengan keraguan tapi harus
saat kubangun lagi dengan butiran butiran pasir yang begitu rapuh
kau datangkan lagi ombak yang menghancurkan tanpa ampun

ku tutup pintu dan ku ingin tata lagi hatiku dengan singgasana yang lebih indah untuk hanya satu raja yang mendudukinya
membereskan sendiri hati yang telah tak berbentuk dengan menegaskan hati dan maju kedepan

kau usik lagi pintu yang telah tertutup
kau pupuk lagi sisa sisa kasih sayang
kau tata lagi dengan perhatian yang sama
namun, apakah aku harus menerimanya
dengan konsekuensi yang menanti didepan
akankah aku sanggup untuk menerimanya
apakah aku sanggup untuk hancur lagi
hancur akan harapan palsu yang sama manisnya, tapi kutau dengan jelas pahitnya
rasa yang tersisa tak semudah itu tuk hilang
rasa yang tersisa rindu akan kasihnya
apa aku sanggup untuk menolaknya?

maaf yang terucap, seakan akhir dari semuanya
inikah waktunya,
hancur lagi untuk kesekian kali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar